Menu
News
Strategy
Leadership
Social Responsibility
In-depth
Video
Indeks
About Us
Social Media

Bos BRI Beberkan Tujuan Holding Ultra Mikro

Bos BRI Beberkan Tujuan Holding Ultra Mikro Kredit Foto: BRI.
WE BUMN, Jakarta -

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso menyampaikan soal tujuan dari Holding Ultra Mikro (UMi). Adapun hal ini bertujuan untuk memperluas akses pendanaan dan akses keuangan kepada lebih banyak masyarakat dengan biaya seefisien mungkin.

Hal tersebut disampaikan Sunarso dalam diskusi How Ultra Micro Holding Connects Finance to Millions in Indonesia. Dalam pernyataannya, Sunarso mengatakan bahwa perlunya pelayanan yang lebih efisien terkait dengan institusi bisnis di bawah BUMN itu.

Baca Juga: Begini 'Curhatan' Erick Thohir yang Kecewa Besar Soal Praktik Korupsi di BUMN

"Spirit dibentuknya Holding Ultra Mikro adalah agar seluruh institusi-institusi termasuk institusi bisnis di bawah BUMN itu dalam melayani masyarakat mikro bisa lebih efisien dan memiliki daya jangkau lebih luas," ujar Sunarso dikutip WE BUMN, Selasa (16/1).

Diketahui, Holding Ultra Mikro telah memperluas akses layanan keuangan kepada masyarakat mikro dan ultra mikro di Indonesia serta telah menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi BRI Group.

Sejak terbentuk pada September 2021, Holding UMi telah memberikan akses pendanaan bagi lebih dari 29 juta ultra mikro dan terus fokus untuk memperluas akses bagi nasabah yang belum terlayani dengan produk dan layanan yang komprehensif.

Selanjutnya, Holding Ultra Mikro memasang target untuk bisa melayani 45 juta pelaku usaha sebagai nasabah pada 2024.

Holding UMi bentukan BRI, PT Pegadaian (Persero), dan Permodalan Nasional Madani (PNM) mencatat telah memiliki total 36,6 juta nasabah per September 2023, dari total jumlah masyarakat yang belum punya akses ke layanan keuangan formal (unbankable). Artinya, masih ada 8,4 juta orang lagi yang harus dijaring hingga 2024.

Dengan begitu, Sunarso mengatakan bahwa potensi pembiayaan di segmen bisnis ultra mikro masih sangat besar, sehingga ada sumber pertumbuhan potensial dan melimpah di segmen tersebut.

Namun, ada tantangan berupa operational cost dan operational risk yang tinggi karena melibatkan orang banyak dan banyak tempat. Sunarso pun menyebutkan bahwa digitalisasi menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan efisiensi.

"Dengan digital kita bisa menyelesaikan persoalan operational risk yang tinggi dan operational cost yang tinggi," ujar Sunarso.

Pada 2018, terdapat 45 juta bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan. Dari total tersebut, hanya 15 juta bisnis ultra mikro yang sudah terlayani oleh layanan keuangan formal, yang terdiri dari tiga juta bisnis UMi dilayani bank, tiga juta ke gadai atau pawn lending, enam juta ke group lending, 1,5 juta ke BPR dan 1,5 juta fintech.

Penulis/Editor: Irania Zulia

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: